CD UGM 4×4 : Shot With Sooth

When you working on something wholeheartedly, with every means and talent you got, spare your thought and time on it, The Almighy will surely reveal the secret of it, that things. Secret that allow you to get benefit from it. There were times, we only used iron to cut or beat things. After people gave some efforts and sacrifices on it, time has told us it’s epic history. Bridge, car, train, industrial machine, ship, plane, submarine, rocket, optimus prime, gundam, things that were never pictured before, even in the wildest imagination of our ancestor. After we took benefit and improve with it, time to time, our feeling to it start to grow. We love it and getting attached to it. In some sort of level, we are so badly dependent to it. Cannot live without it. Feels like the sun goes unshiny, and the bird goes unsinging. Syubidu bidu, lala lala, cuap cuap.

Dan demikianlah proses segala pemujaan di dunia ini bermula. Orang-orang di pesisir dahulu memberikan segala daya dan upayanya di laut, dari waktu ke waktu. Dibukakanlah untuk mereka rahasia-rahasia laut; kapan waktu yang bagus untuk melaut, bagaimana membaca arah, mengendarai angin, menyeberangi badai, menggoda putri duyung dan lain-lain. Dengannya merekapun dapat mengambil manfaat-manfaat dari laut, ada yang jadi nelayan, ada yang jadi bajak laut, ada yang jadi penjelajah, ada yang jadi nenek moyangku. Kecintaan tumbuh kepada laut dalam hati mereka. Dada mereka berdebar ketika laut disebut, air mata berlinang memandang tenggelam surya di cakrawala. Mereka akan berikan apapun kepada laut, sebagai wujud sayang dan syukur. Untuk laut mereka tidak akan menghitung-hitung lagi. Mereka terkait, mereka mengabdi, mereka memuja, sepenuh hati. Hanya memberi, tak harap kembali. Romantis.

Tanpa sadar, dalam conveyor siklus inilah kita menjalani masa-masa kita. Saat ini, kita sedang memikirkan, merisaukan, dan mengerahkan segenap potensi kita untuk sesuatu yang kita puja, romantically. Akan tetapi ketika masa-masa ini hanyut dan larut menjadi suatu aktifitas yang sama dan diulang-ulang, seolah-olah semuanya berjalan dengan otomatis. Dengan mata terpejam, dan benak hampa pun, badan kita di pagi hari bangun tidur, dan terus mandi, tidak lupa gosok gigi, menolong ibu, membersihkan tempat tidur sya la la lalalala.  Beberapa saat kemudian, kita mendapati diri kita berada dalam ruang atau kubikel kantor, warung, counter, kokpit kita. Memandangi layar-layar, orang-orang, jalan-jalan dengan tatapan datar, ndlongop. Seperti pokok-pokok pohon yang sudah tercabut ruhnya. Ada kering yang melanda dalam diri kita. Hilangnya romantisme pengabdian dan pemujaan. Jenuh.

Mengkuantitaskan romantisme adalah suatu hal yang tidak lebih mudah daripada menegakkan benang basah. Ibarat berlari menjauhi keniscayaan. Bagaimana mungkin menyatukan angka dan rasa. Susah membayangkan Fakultas MIPA membuka jurusan seni rupa, atau Sekolah Seni membuka jurusan matematika. Dan rupanya, mungkin, barangkali boleh jadi. */jrek nooong*/ */ isyarat lenong di mana penonton diharapkan tertawa, karena suatu kelucuan yang dipaksakan baru saja diluncurkan*/. Masa yang serba scientific dan digital belakangan ini, memaksa diri kita berenang-renang dalam angka-angka. Ketika kita membicarakan nilai-nilai, yang terbayangpun angka-angka.  Semuanya harus terukur, dan mengukurnya pun dengan angka-angka. Pada suatu titik kita menjadi pemuja angka. Pada saat angka dipuja itulah, rasa dihina. Sedih level 7 skala film India.

Career Days UG_DSC_8224M yang sudah ke sekian belas ini, for some people, especially those guys  behind the screen, mulai beranjak tenggelam dan menyelam dalam angka-angka. Begitu-begitu saja. Tentu saja kita ndak kurang-kurangnya untuk terus berusaha mengevaluasi- inovasi-evolusi.  Tapi sepandai-pandainya tupai melompat, sekali-kali gagal juga, kan? Sepandai-pandainya ikan berenang, sekali-kali pasti klelep juga */ ya ya anda benar, semua ikan hidup pasti klelep */ Masa-masa ini adalah masa-masa kritis bagi kami */I love this ‘masa-masa kritis’ word and use it all the time. Kesannya sok iya banget soalnya. Please tell no one, okay?! This is special allowance for this faithful yet invisible blog reader only */. Masa-masa ini kami harus banyak mengingat kembali romantisme yang dulu kami sepakati dalam mimpi visi dan misi. Terlebih lagi value kami. Agar kami ndak terhanyut larut dalam quicksand, penuh butiran angka-angka, err mungkin namanya jadi quickcount ya. Tanda-tandanya mulai  ada. Mahal senyum, menguap, galak, songgo uwang, ndomblong, banyak mengeluh, rambut kusut, perut membesar, susah ke belakang dan lain-lain.

Nothing is so dead wrong about that, actually. Ini bagian dari siklus yang semua orang akan mengalami. Orang berhobipun, yang dikatakan hobi karena tidak ada komitmen dan espektasi minimum yang terlibat di sana, suka-suka saja, ada masa dia mengalami kebosanan dan beralih ke hobi yang lain. Apalagi ini, dunia yang sarat ikatan, penuh tuntutan, banyak tergantung harapan, dan selalu melibatkan desak-desakan. Sudah banyak ahli-ahli kebijaksanaan berambut awut-awutan yang mengatakan bahwa segala hal yang terjadi pada kita, seberapa buruknya itu, bukanlah suatu masalah. Masalah sebenarnya adalah bagaimana respon kita terhadap yang datang itu. Kalau ada gadis-gadis cantik yang merengek-rengek berebutan untuk menjadi istri saya saat inipun, itu bukan masalah. Masalahnya kalau sebelas-sebelasnya saya terima semua */ sama-sama andai-andai ini, sekalian saja hahah */. Career Days mulai terasa begitu-begitu saja, tentunya itu bukan masalah. Masalahnya kalau kita terus cemberut, garuk-garuk gigi, mengurung diri, mangani tanduran, ngentasi gendheng, mbrakoti cagak anim dan lain-lain.

What comes around, comes around. Apa yang akan datang, pasti akan datang. Kepastian selalu di luar kuasa kita. Wewenang kita hanyalah mempersiapkan sebaik-baiknya sebelum segalanya tiba. When it happens, menerima dan merespon sebaik-baiknya. Respon yang terbaik apabila terjadi hal yang unfavorable adalah mengembalikan pada kelemahan diri kita sendiri, sehingga terbuka pintu-pintu perbaikan. Saat jenuh melanda kita, hakekatnya kita kehilangan ruh atas apa yang kita lakukan. Kita melupakan hal-hal yang awal-awal dulu kita perjuangkan dengan sepenuh hati. Hal-hal yang romantis instead of kuantitatis. Hal-hal yang untuknya ktia rela memberikan tidur malam, waktu bersama keluarga, dan menanggung pusing kepala. Sesuatu yang tidak bisa dibeli dengan apapun. Hanya bisa diusahakan dengan kesungguhan. Dimensi yang ndak akan bisa di render oleh superkomputer manapun. Sesuatu yang, errr, pokoknya di sini nich */nunjuk-nunjukkan jari ke dada kiri, sambil nyengir-nyengir kuda */

Rasanya ndak ada job fair, yang teramat sangat serius hingga harus pakai tema dan tag line, yang dipikirkan hingga ber meeting-meeting. Job fair, ya job fair. Sudah itu, orang-orang yang berkepentingan pun sudah paham kalau diberitahu ada job fair, begini begini, begitu begitu, ya mereka akan datang juga. Event pun akan berjalan seperti biasanya juga. Yet, teman-teman di sini bersikeras, Career Days harus ada judulnya, harus ada temanya. Ngapain cobak? Temanya pun terkadang sangat filosofis, ndak mudah dipahami, aneh-aneh hahah. Saat musim semi dan musim gugur tiba, kira-kira yang terlintas pertama kali di benak Mas Bentar dan kawan-kawan adalah, opo meneh iki? But really, we felt some pure excitement whenever Mas Bentar presented the forthcoming Career Days theme and scheme. Also, felt his frustation whenever we’re not satisfied with his idea hahah. Is this such a waste?

Kita juga repot-repot menyusun dan membagi-bagikan katalog untuk saudara-saudara yang berjuang menggapai mimpi di Career Days ini. Meskipun ndak bisa semuanya kami beri karena terbatasnya anggaran, dan kami harus meghibur rekan-rekan yang bertanya sedih “kok saya nggak dapet yang kayak gitu?” sambil menunjuk rekan lain yang kebetulan sedang asyik memain-mainkan katalognya dengan nakal, seolah-seolah meneriakkan yel-yel ” ye ye ye ye ye, kamu nggak dapet, ye ye ye ye.”  Apa untungnya cobak? Mbak Rita, Mbak Vinia dan kawan-kawan juga berjibaku menyiapkan pembukaan yang hanya satu jam itu. Sampai harus buat gladi kotor, gladi resik, gladi resik banget, gladi resik banget wes thiitt, sampai tengah malam. Mas Denny dan kawan-kawan, idola nyamuk-nyamuk GSP. All those wholehearted struggles.

This is what we love, aye guys? We love to serve people, and we’ll always do that thoroughly, ndak mau setengah-setengah. Kita adalah sekelompok perfeksionis, yang akan mengerahkan segala yang kita bisa, mendorong lebih jauh limit kita, untuk mengembangkan senyum di wajah orang-orang. Sekali kita lupa romantisme yang mendasar ini, kita akan kembali tenggelam dalam angka-angka, dan segera karam di dasar kejenuhan. Angka-angka memang perlu, tetapi sekedar perlu saja, bukan pokok dan spirit kita. Apalagi uang. Kata Pakdhe Bob Marley : Money is numbers, and numbers never end. If it takes money for us to be happy, than our searching for happiness will never end.

RobinJangan jadi kita seorang tua yang memeriksakan dirinya pada psikiater, mengeluhkan betapa susahnya dia merasa senang dan tertawa. Sang psikiater menyarankan “Pergilah ke kota, di sana ada badut yang superlucu, yang tidak ada orang yang melihatnya, kecuali dia akan terhibur dan tertawa.” “But Doctor, I am that funny clown.” ( In memoriam Robin William )

Menyenangkan orang adalah kesenangan kita, dan untuk itulah kita mau bersusah payah sepayah payahnya. Ketika jiwa kita merasa lelah karena minimnya apresiasi, ingatlah wajah-wajah bahagia, teman-teman yang dahulu pernah membantu kita, yang kini sudah duduk dalam kursi-kursi terhormat perusahaan peserta. Atau yang sekedar bercerita dia baru saja diterima bekerja. Atau bahkan yang baru sekedar tersenyum lega dengan sedikit bantuan kita. Itulah insentif kita yang utama di dunia, those feeling, when your chest increasingly beating, and some fluid in the corner of your eyes melting. When we still get that feeling, then we know we are alright. Kalau sudah begitu, tentulah kita akan sambut setiap Career Days dengan gembira ria dan penuh gairah, karena banyak orang lagi yang datang untuk bisa kita senangkan. Bagaimana bisa kita bosan? Sampai Career Days ke 4292812 kuadrat pangkat lima X dua pertiga pi sekalipun, kita akan senantiasa merasa excited dan tertantang. Sampai tiada lagi, orang yang keluar dari pintu Career Days, kecuali dengan tersenyum, tertawa, puas, bahagia, sejahtera, selama-lamanya. Tamat.

 

 

 

About joel

Bima Ardhitya, ECC's Career Information Dept. Head

21 Comments

Leave a comment

Add your comment below, or trackback from your own site. You can also subscribe to these comments via RSS.

Your email is never shared. Required fields are marked *