He’s a Bro, He’s Tough. He’s Through.

Long sniff. Long sigh. Long sniff. Long sigh.

Wise men said, the value of everything depends on its’ state at the very end. Nilai segala sesuatu itu tergantung pada keadaan di akhirnya.

Contoh : pada suatu perlombaan marathon 40 km, Damon terus melaju sejak awal meninggalkan lawan-lawannya. Hingga tinggal beberapa meter saja dari garis finis, sekonyong-konyong dia berhenti karena tergiur rayuan gombal paman penjual cilok dan bibi penjaga counter es oyen. Mampirlah dia, duduk jegang menikmati cilok hangat dan sesekali nyusrup es oyen rasa durian, sambil dada-dada ceria pada pelari-pelari lewat yang tadi jauh ditinggalkannya. Tercatatlah dia sebagai orang yang kalah, dan 39,9999 km di mana dia menang pun ndak ada artinya lagi. Kalah.

Demikian juga dengan hidup kita ini.

Long sniff. Long sigh.

Seorang sahabat baik bilang, untuk mengurai keruwetan di benaknya dia menulis. Well, easy for her to say, since she’s an accomplished writer. Benak saya ndak ruwet sama sekali sebenarnya. Bagaikan desa kecil yang belum ada listrik, sinyal, dan cilok. Senyap, tentram, dan sehat. Saya juga ndak pintar ataupun suka menulis. Hanya saja, ada gundah yang teramat gulana saat ini, yang seringkali menyambar setiap keping sadar yang tersisa dalam benak saya. Hingga kadang-kadang saya kehilangan beberapa saat hidup saya entah ke mana. Kosong sesaat yang datang bersamaan dengan dada sesak. In some senses, mungkin ini lebih parah daripada ruwet. Berhubung saya sangat pemalu dan penakut, terlalu malu untuk mencurahkan perasaan, dan terlalu takut untuk pergi ke dukun, yach sudah dech, saya paksakan diri saya untuk menulis saja. Lagipula enak di sini, sepi.

Jam 2 pagi hari itu, adalah masa-masa ujung dari perjalanan saya. Ndak ada perasaan khusus saat saya terbangun ketika itu. Biasa saja. Hingga empat setengah jam kemudian, seorang saudara datang mengabarkannya kepada saya. Bahwasanya, sahabat kami, saudara, rekan seperjuangan-ngaji-kerja-sekolah-main-gojegnyek2antumpuk undung, telah dipanggil berpulang pada jam 2 pagi itu.

Long sigh.

Ndak ada drama pagi itu. Hanya beberapa ucapan kecil yang biasa. Selain saya memang bukan orang yang ekspresif, ndak heran ndak ada yang nawarin jadi bintang film walaupun wajah dan penampilan saya, ndak nyombong, sedikit saja di bawah rata-rata, barangkali saya memang sudah disiapkan untuk hal-hal seperti ini. Kali kelima ini saya, secara tidak terduga, ditinggal orang dekat ketika sedang dalam perjalanan, dan saya ndak bisa menghadiri pemakamannya. Tepatnya dua nenek, satu kakek, satu paman, dan sekarang ini. Mudah-mudahan saya ndak bikin takut orang-orang yang kenal dekat dengan saya setelah ini, sekiranya saya harus melakukan perjalanan lagi. Sebelum saudara-saudara mulai membayangkan sosok petualang atau backpaker yang keren, gagah, dan nggemesin, saya sama sekali bukan seperti itu. Sesekali saja saya pergi ke sana dan ke sini. Itu saja, ndak gagah pun ndak nggemesin. Sedikit keren saja mungkin, kalau mau dipaksakan.

Hari itu rasanya mungkin saya hanya lebih banyak diam daripada biasanya, yang notabene saya memang pendiam. Lebih sedikit bercanda, yang biasanya kalau bercandapun jarang lucu. Seperti diingatkan kembali siapa diri saya ini, walaupun ndak lupa. Tapi saya merasa sembahyang saya lebih syahdu seharian itu, dan lamunan saya pun ndak kalah khusyuknya. Kalau kadang-kadang ada butir-butir cair di sudut mata saya, itu karena saya memang cengeng plus alergi debu. Bukan karena lembutnya hati saya dan melankolisnya perasaan saya. Kami sembahyang untuk almarhum sahabat kami secara in absentia. Hangat dada saya, saat saudara-saudara di situ yang ndak kenal dengan almarhum pun, ndak mau ketinggalan untuk berdiri bersama saya.

Dua jam saja sebenarnya jauh saya dari rumah duka. Akan tetapi saya punya tanggung jawab pada teman-teman di sini yang ndak bisa saya tinggalkan. Walaupun saya yakin, kalau saya minta ijin pun, pasti mereka ijinkan. Kalau ada orang yang paling bisa memahami, kenapa saya ndak bisa hadir, almarhumlah orangnya. Saya masih bisa mendengar ucapan khasnya, “Rapopo, nyante wae!” sayup-sayup di telinga saya, terus dan terus memaklumi saya. Mudah-mudahan bukan alam bawah sadar saya sedang berusaha ngeyem-eyemin saya.

Blessing in disguise for me actually. Because I wasn’t sure I could contain myself, seeing you lying down in front of me, wrapped in white, lifeless.

Long sniff. Long sigh.

Mengaku-aku sebagai sahabat sungguh rasanya saya ndak pantas. Hanya angan-angan saya saja. Sementara masih banyak hak-hak almarhum yang belum saya tunaikan. Ndak kurang-kurang kesempatan yang saya punya, 17 tahun lebih. Rasanya baru kemarin saja kita rembugan mau bakar ayam di mana akhir minggu ini. Parangendog? Mbabarsari? Siung? Sundak? Pacitan?

Baru tadi malam kita uyel-uyelan di tenda kecil menggenang yang sudah layak ditaburi benih lele. Semalam suntuk pura-pura bisa tidur, mendengar gemuruh angin di luar, yang suaranya seperti gemuruh angin di radio ketika Mak Lampir dan Gerandong mau datang silaturahmi. Paginya kita umuk-umukan (saling pamer), siapa yang paling menderita semalaman, kaki siapa di kepala siapa, dan lain-lain sambil tertawa tergigil-gigil kedinginan di tengah badai.

Crazy times, weren’t they? Topan badai, panas hujan pernah kita lewati bersama. Literally. Boncengan naik montor ke Surabaya, alasannya mau kerja praktek. Hahah. Sebentar hujan, pakai mantol, sampai Krian panas lagi, lepas mantol, belum Mojokerto hujan deras lagi, pakai mantol lagi, Mojokerto panas lagi, belum Jombang hujan lagi. Akhirnya disepakati mantol dipakai sampai Jogja, mau panas kek, hujan kek, hujan tekek kek. Di beberapa lampu merah, kita menyempurnakan ajian rai gedhek (cuek), menahan tatapan-tatapan takjub orang-orang melihat sepasang pengembara bermantol brukut di tengah siang bolong yang potatoesly hot (panasnya ngentang-ngentang).

Belum lama rasanya, saya diampirin untuk ikut foto pre wed di pesisir. Bukan untuk jadi objek atau talentnya, tapi untuk dipinjam sofa dan gitar saya sekaligus bonusnya saya mbantuin angkat-angkat, sesuai dengan talent saya. Belum cukup, sesudah itu kita penekan turun Jomblang dan mblethok-blethok (berlumpur-lumpur) di dalamnya. Ndak jelas peran saya sebenarnya. Moto juga ndak, ngangkat-ngangkat juga ndak ada yang di angkat-angkat, cheerleader tapi kok kumisen.

Barangkali memang ada ikatan perasaan yang tidak tercakup kosakata, yang membuat saya ada di situ. Sesuatu yang dulu membuat saya pasrah saja diajak almarhum ngecat rambut ke tukang cat amatiran yang rasanya ngecat tembok pun ndak bisa. Sampai sekarang masih saja ada yang memanggil saya ‘Karat’ karenanya. Kok dirimu ndak ada yang manggil gitu yach, Bro? Tanpa saya sadari, sedemikian inginnya saya menjadi sahabat almarhum. Sampai sekarang.

Long sniff. Long sigh.

Segala sesuatu tergantung akhirnya. I still can see you standing on the mimbar, giving speech about that. One of your favourite speeches, wasn’t it? Almost funny that, I did the same thing, even twice, during my last days of my journey. Just few days before you left.

Kita pun pernah seperti Damon kan? Lomba lintas alam, balapan kurang sak nyuk-an, malah mampir warung, maem soto dan mimik es teh sambil dada-dada pada peserta lain yang lari tergopoh-gopoh, mampir Maas! ‘naak ‘naann! Bedanya kita ndak memimpin waktu itu. Hampir pasti ndak menang malah. Jadi kita pastikan saja. But hey, saya dapat nomer telepon panitia palinng cantik saat itu, yang beberapa waktu kemudian jadi pacar saya. Itu saja paling saya pernah menangnya dari almarhum. Itupun selama bertahun-tahun jadi pacar saya, ndak pernah cemburu pada perempuan lain, tapi cemburunya malah hanya kalau saya sama almarhum. Saya ndak pernah yakin itu ndak serius.

Setelah itu yach, you the one who got it all, sekolah, karir, keluarga. So, I coudnt be grateful enough for this last seven years. Saat kita bersama-sama merangkak, berdarah-darah membangun mimpi, untuk memberi manfaat kepada sebanyak-banyak manusia. Baik secara lahiriah lewat ECC ini, yang almarhum adalah salah satu tokoh kuncinya. Maupun batiniah yang senantiasa terhubung dalam risau dan pikir bagaimana agar semua manusia bisa hidup bahagia. What an end to have. Dream end.

Saya dengar dari saudara-saudara yang ada di dekat almarhum di saat-saat akhir, kata-kata yang terucap adalah dambaan setiap insan dalam menyambut kematian. Tentu saja saya sedih, saya kehilangan. Hence those blank moments and stuffed chest. Tapi ini saat-saat hari rayamu bukan? Kamu raih dengan akhir yang gagah berani. Perjuangan berat, yang saya membayangkan pun tak sanggup. The struggle given only to the toughest one. And you made it through. You end up a winner. Inilah saat di mana dirimu bersuka, sementara kami berduka.

Sehari setelah itu, dengan alasan perpisahan dan pamitan saya peluk erat-erat setiap rekan perjalanan saya. Yach, ada benarnya juga sich. Tapi sebagian besar karena saya benar-benar ingin dipeluk. Terlalu malu untuk meminta.

Rest easy now. Ndak ada yang perlu dikhawatirkan lagi. Biar yang di sini, insya ALLAH, Zaky dan Abidz yang nanti meneruskan.

See you later, aligator! Well, some part of me still hoping that I’ll hear that : ‘after a while, crocodile!’ answer from you. But uh, nah, it would be spooky, I guess. Catch you up in the other side, Bud!

Long and hugh sigh.

In memoriam
Agung Subroto
7 Mei 1980 – 9 Januari 2016

Kami berdua ndak begitu hobi dipoto, but well, there’s one :

1917029_1242249585304_1985151_n

About joel

Bima Ardhitya, ECC's Career Information Dept. Head

20 Comments

Leave a comment

Add your comment below, or trackback from your own site. You can also subscribe to these comments via RSS.

Your email is never shared. Required fields are marked *